Kepergian Lorenzo dan Kedatangan Vinales, Akankah Yamaha Semakin di Depan?

0

Salah satu alasan kenapa Jorge Lorenzo hengkang dari garasi yamaha mungkin bukan hanya soal nilai kontrak yang ditawarkan ducati ataupun tantangan untuk merebut gelar dibawah panji merah Italia tersebut. Lebih dari itu, yamaha selalu dan akan tetap dengan “yellow heart”nya.

Sebesar apapun kontribusi Lorenzo, dia takkan pernah mengalahkan dominasi Rossi dikubu yang sama. Ini bukan soal siapa yang tercepat di dalam lintasan, namun tentang siapa yang lebih difavoritkan baik di dalam maupun di luar lintasan. Dan dalam kriteria ini, Lorenzo jelas kalah dari kibaran bendera kuning bertuliskan 46 yang senantiasa menghiasi arena di setiap race.

Selama sembilan musim dengan rekor-rekor spektakulernya termasuk tiga kali membukukan gelar, namun X-Fuera tetap menjadi nomor dua. Barangkali kepergiannya dari tim garpu tala menjadi keputusan yang tepat baik secara personal maupun untuk persaingan yang lebih berwarna di musim depan.

Tendensi ke arah the doctor pun kemungkinan akan sedikit berkurang dengan datangnya pengganti Lorenzo. Lebih muda, kompeten, dan satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa pengganti Lorenzo ini berdarah Spanyol.

Dialah Maverick Vinales. Setelah melewati proses negosiasi yang cukup panjang, tim movistar yamaha akihirnya bisa meyakinkan Vinales untuk menjadi rekan Valentino Rossi dalam dua musim mendatang.

Dari berbagai sudut pandang sangat jelas bahwa Maverick bukanlah apa-apa dibandingkan Lorenzo dengan tiga gelarnya maupun Rossi yang telah empat kali berbagi gelar bersama Yamaha. Tetapi, bukankah setiap rider memulainya dari nol?

Yang dibutuhkan Vinales adalah kematangan membalap bersama motor YZR-M1. Selama dua musim membalap untuk Suzuki, Maverick mampu menunjukkan kematangan tersebut dengan angka-angka yang telah Ia capai. Barangkali bersama yamaha Ia bisa lebih cepat dari itu.

Sebab Fakta yang tak bisa terbantahkan adalah bahwa yamaha selalu menjadi pabrikan yang menawarkan gelar juara dunia. Namun fakta inilah yang sejatinya menjadi pemicu remuknya hubungan antara dua rider dalam satu garasi yang sama.

Membalap merupakan paket yang tak terpisahkan dari egosime. Dan salah satu egoisme tertinggi dalam persaingan di atas lintasan MotoGP adalah menyelesaikan balapan di depan rekan satu tim.

Maverick Vinales sebagai pembalap muda, bisa memilih dua jalan dalam plotnya bersama yamaha. Dia bisa menjadi “reinkarnasi” Lorenzo atau “regenerasi” Valentino Rossi. Keduanya berbeda, namun tetap sama dan bermuara pada satu tujuan, untuk Yamaha yang semakin di depan.

About Author

Mahasiswa Akuntansi Universitas Al Azhar Indonesia.